Berita Migas

Bank Sampah, Sulap Minyak Jelantah Jadi Biodiesel

Ketua sekaligus inovator di KSM Ramah Lingkungan Sardji Sarwan [Foto/Hendra Brata]

Tarakan (beritajatim.com) – PT Pertamina EP Tarakan Field (Tarakan Field) sebagai industri hulu migas, tentu kewajiban perusahaan adalah produksi sumber energi. Meski begitu, bukan berarti perusahaan tutup mata akan kebutuhan masyarakat sekitar.

Enriko R. Estrada Hutasoit, Tarakan Legal & Relation Assistant Manager menyebut, melalui program pemberdayaan masyarakatnya atau yang kerap disebut corporate social responsibility (CSR), Tarakan Field berusaha menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat melalui pemberdayaan.

Adapun program pengelolaan sampah skala lingkungan adalah salah satu cara Tarakan Field menjawab kebutuhan masyarakat akan isu lingkungan. Dilaksanakan di Kelurahan Kampung Enam, Kota Tarakan, perusahaan membina Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Ramah Lingkungan. Program pengelolaan sampah skala lingkungan ini dimulai tahun 2010 dan sudah mandiri pada tahun 2017.

“KSM Ramah Lingkungan sudah mandiri dan bahkan mampu berinovasi pada sumber energi baru terbarukan,” kata Enriko.

Ketua sekaligus inovator di KSM Ramah Lingkungan Sardji Sarwan mengatakan, program pengelolaan sampah oleh Tarakan Field tersebut sangat unik dan berbeda dengan program-program serupa di tempat lain. Selain mengelola sampah dan mendorong perubahan perilaku masyarakat, sampah nyatanya dapat diolah menjadi sumber energi berupa biodiesel.

Menurutnya, Biodiesel mungkin memang terdengar biasa saja, namun tidak dengan biodiesel produksi KSM Ramah Lingkungan. Berbahan dasar minyak jelantah dengan campuran bioethanol dari limbah rumput laut, biodiesel KSM Ramah Lingkungan justru menyelamatkan lingkungan.

“Seperti yang kita ketahui minyak jelantah bila dibuang dapat merusak tanah dan air, sedangkan limbah rumput menyebabkan polusi udara,” ujar Sardji.

Dia juga menyebut, kelebihan program pengelolaan sampah binaan Tarakan Field tidak sampai di situ saja. Proses pembuatan biodiesel minyak jelantah masih menyisakan limbah berupa gliserol yang berasal dari pencucian minyak bekas.  “Limbah tersebut justru kembali dimanfaatkan menjadi bahan utama pembuatan sabun pembersih,” katanya.

Implementasi program CSR Bank Sampah juga dilakukan Tarakan Field di Pulau Nunukan. Bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nunukan, Tarakan Field membina Bank Sampah Induk Nunukan. Bank Sampah Induk Nunukan dirancang untuk menjadi ujung tombak pengelolaan sampah di wilayah Pulau Nunukan.

Menurut Enriko, Bank Sampah Induk Nunukan pada dasarnya sama dengan bank sampah pada umumnya. Namun, tentu saja ada hal yang membedakannya, yakni fokus Bank Sampah Induk Nunukan pada pengolahan limbah botol plastik. “Nunukan adalah pulau kecil, namun limbah botol plastiknya sungguh luar biasa. Bisa mencapai puluhan hingga ratusan ton dalam setahun. Kebanyakan sampah tersebut merupakan kiriman dari daerah lain,” ujar Enriko.

Ketua Bank Sampah Induk Bambang Eko Purwanto mengatakan, botol plastik biasanya dimanfaatkan nelayan setempat sebagai pelampung budidaya rumput laut. Pulau Nunukan menjadi produsen rumput laut terbesar di Kalimantan Utara. Namun, karena paparan air laut, pelampung botol tersebut mudah rusak.

“Oleh nelayan setempat, botol plastik seringkali dibakar. Padahal, limbah botol plastik menyimpang potensi ekonomi,” ujar Bambang. [hen/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar