Jum'at, 17 Agustus 2018

Hobi yang Terbayarkan, Bekerja dengan Sepenuh Hati

Jum'at, 20 April 2018 01:24:49 WIB
Reporter : -
  •  Hobi yang Terbayarkan, Bekerja dengan Sepenuh Hati
  •  Hobi yang Terbayarkan, Bekerja dengan Sepenuh Hati
  •  Hobi yang Terbayarkan, Bekerja dengan Sepenuh Hati
Christian Kustedi bersama para reseller Dusdusan.com


Jakarta (beritajatim.com) - Setiap orang pastinya memiliki pola kesuksesan yang berbeda-beda. Begitu juga dengan Christian Kustedi. Menjadi CEO dan Co-Founder Dusdusan.com yakni sebuah platform dengan komunitas reseller yang kini telah memiliki lebih dari 40,000 reseller aktif tersebar di Indonesia bukanlah hal yang instan. Perjalanan yang dilaluinya tidaklah mudah. Berikut kisah perjalanan inspiratifnya.
 
Meski lahir di Jakarta pada tanggal 01 Januari 1986, Christian menghabiskan masa duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Tangerang. Sang Ayah yang pernah bekerja sebagai montir dikala itu, menjalankan bisnis sendiri dengan membuka bengkel untuk kendaraan mobil dengan perlahan-lahan hingga meningkat terus dan makin besar.

Tetapi, hingga pada tahun 1998, bisnis sang Ayah terkena krisis. Dari titik itulah mulai turun, karena terdapat banyak bengkel resmi yang mulai menjamur. Namun, semangat untuk mulai membangun kehidupan Christian tak berhenti disitu.
Ia menceritakan, setelah menuntaskan sekolah, melanjutkan ke jenjang kuliah dengan mengambil jurusan Desain Grafis di Universitas Pelita Harapan, Karawaci. Sesuai dengan harapan, kuliahnya berjalan lancar. Bahkan, sejak semester 2,Christian kerap menerima pekerjaan lepas waktu.

"Karena memang saya menyukai bidang tersebut," ungkapnya.
 
Hingga masuk ke semester enam, ia membuka studio desain bernama Kamarupa yang menerima jasa grafis dan web desain bersama dua partnernya di perkuliahan. Berjalan hingga sekarang, ia mengaku akhirnya bertemu dengan dua orang klien yang kini menjadi partnernya di Dusdusan.com.

"Dari Kamarupa saya berkenalan dengan klien yang akhirnya menjadi partner bisnis. Jadi, selama 10 tahun bekerja, kami merancang proyek simple hingga brand development. Akhirnya Kita duduk bareng dan sepakat berkolaborasi di Dusdusan.com," paparnya.
 
Terbentuk pada tahun 2014 akhir lalu, bisnis Dusdusan.com menjalani masa panjang. Christian mengaku, sudah dua kali berganti model bisnis. Awalnya memang Dusdusan.com hanya sebagai online distribution untuk pabrik jadi hanya sebagai salah satu opsi untuk distribution channel.

"Tapi sistem B2B ini hanya dijalankan dua bulan. Respon market kurang bagus, kita kemudian pivot menjadi B2C yang kemudian jalan selama kurang lebih enam bulan ," tuturnya.

"Sistem kedua ini cukup baik, pertumbuhannya naik terus tetapi kami merasa terlalu berat karena menjual barang dengan harga murah. Terlalu tinggi cost per purchasenya," tambahnya.

Namun, seiring berjalannya waktu dengan fase enam bulan tersebut, timnya mulai bangkit dengan mulai mempertajam dari bisnis model dan produk diubah menjadi full reseller karena yang dulu hanya berjualan satuan, kini fokus untuk reseller. Pria berkacamata ini memaparkan bahwa pada tahun 2017 baru perusahaannya benar-benar diresmikan.

"Saat itu, ada orang yang membeli produk yang sama berkali-kali untuk dijual kembali. Akhirnya, kami mulai fokus satu titik menjual banyak , makanya namanya dusdusan karena belinya tidak hanya satuan," aku Christian. [adv]

Berita Terkait

    Komentar

    ?>