Advertorial

Penanganan Lalulintas di Kota Denpasar Patut Dicontoh

Sidoarjo (beritajatim.com) – Volume kendaraan di berbagai titik di Kota Sidoarjo tergolong tinggi atau padat. Terutama pada jam-jam aktif atau jam kerja, volume kendaraan yang ada terkadang sampai menimbulkan arus lalulintas merambat dan bahkan terkadang macet.

Misal volume kendaraan yang melintas di Bundaran Aloha Gedangan dan perempatan Gedangan. Untuk arus lalulintas merambat di jantung kota kadang dijumpahi di Jalan Pahlawan dan lainnya.

Untuk mengatasi arus lalu lintas atas tingginya volume kendaraan hingga sampai menimbulkan kemacetan, Komisi C DPRD Kab. Sidoaorjo mengusulkan ada penanganan serius dengan mencontoh penanganan arus lalu lintas yang diterapkan Dinas Perhubungan Kota Denpasar Provinsi Bali.

Ketua Komisi C DPRD Kab. Sidoarjo Abdillah Nasih mengatakan ada solusi yang dinilainya cukup bagus dalam menangani arus lalulintas agar sampai menimbulkan arus lalulintas merambat sampai menimbulkan kemacetan. “Penanganan arus lalulintas di Kota Denpasar itu cukup bagus dan tidak sampai menimbulkan kemacetan,” katanya.

Nasih menjelaskan, dalam penanganan arus lalulintas, Dishub Pemkot Denpasar menerapkan beberapa poin yang setiap hari dijalankan untuk mengurai maupun menghindari adanya kemacetan. Jalan Kota Denpasar tergolong tidak terlalu lebar, namun kemacetan terurai.

Diantara yang diterapkan, Dishub Kota Denpasar mempunyai data base persimpangan yang sering adanya volume kendaraan yang tinggi dan rawan menimbulkan kemacetan.

Rombongan Komisi C DPRD Kab. Sidoarjo mendengarkan paparan dari pihak Dishub Kota Denpasar Bali

“Di beberapa titik persimpangan juga dilengkapi dengan CCTV dan petugas terkait yang selalu siaga. Dan di Denpasar juga ada semacam petugas di luar ASN yang membantu dalam penanganan lalulintas ,” papar dia.

Poin lainnya, lanjut politisi PKB tersebut, Kota Denpasar memiliki aplikasi smartphone dalam soal arus lalulintas. Dari aplikasi tersebut bisa terpantau atau terlihat adanya kemacetan yang terjadi.

“Dari aplikasi juga muncul adanya saran atau pemberitahuan atau pengalihan ke jalan alternatif yang menjelaskan adanya jalan lain yang bisa di manfaatkan oleh pengguna jalan untuk menghindari kemacetan,” jelas Nasih.

Sistem traffic light yang ada di kota tersebut, lampu hijaunya untuk melanjutkan perjalanan, menyesuaikan volume kendaraan yang ada. Volume kendaraan yang banyak, akan memiliki waktu lebih lama dibanding arah yang volume kendaraan yang ada lebih sedikit.

“Jadi hitungan lampu merah dan hijaunya tidak sama. Memang disetting sesuai dengan program untuk memperlancar arus lalulintas,” imbuh Sekretaris DPC PKB Kab. Sidoarjo itu.

Masih kata Nasih, dan di Kota Denpasar, juga mempunyai UPT Barang. Artinya, fungsi dari UPT itu, kendaraan besar yang membawa muatan dan tergolong besar, tidak menghiasi jalan raya di Kota Denpasar.

Truk trailer yang membawa muatan besar atau banyak, bisa melakukan transit ke UPT Barang untuk memindahkan muatannya ke truk atau mobil yang lebih kecil yang tidak ada larangan pada jam-jam tertentu saat melintas di jalan raya.

“Mobil transit juga tersedia di UPT tersebut. Lahan yang ada juga milik pemerintahan setempat. Dan itu kalau diterapkan di Sidoarjo, tentunya juga bermanfaat. Selain untuk menangani kemacetan, juga ada pendapatan yang masuk,” jelas Nasih.

Tentunya, sambung dia, jika penerapan seperti UPT Barang di adakan di Sidoarjo, harus melalui kajian yang mendalam. Bisa UPT itu diadakan di wilayah timur, barat maupun lainnya.

Rombongan Komisi C DPRD Kab. Sidoarjo bersama Dishub Kota Denpasar

“Apalagi Sidoarjo merupakan kota yang menjadi perlintasan masuk dari beberapa kota. Mulai ke Surabaya untuk arah utara, ke selatan bisa ke Pasuruan maupun Malang dan ke barat bisa ke Mojokerto. Jadi hal itu kami nilai cukup perlu,” imbuhnya.

Tarkit Erdianto anggota Komisi C DPRD Kab. Sidoarjo juga sependapat dengan Nasih. Menurut dia, penanganan arus lalulintas di Sidoarjo harus berjalan secara baik.

Arus lalulintas merambat dan sampai macet, sering dijumpahi pada jam-jam aktif atau jam masuk kerja. Tarkit juga berharap, untuk terobosan penanganan kemacetan, seperti mewujudkan frontage road sepanjang 9,2 Km dari Waru, Gedangan, hingga Buduran segera tuntas.

“Selain itu (frontage road red,), ada trobosan lain yang diterapkan Dishub Kab. Sidoarjo. Mungkin dari paparan hasil kunjungan kerja di Kota Denpasar bisa di contoh. Kabupaten Sidoarjo adalah wilayah vital, ada Bandara Internasional Juanda dan juga menjadi penyangga Ibukota Jawa Timur,” terang politisi PDI Perjuangan tersebut. (adv/isa)

Apa Reaksi Anda?

Komentar